Pemerintah Harus Punya Keyakinan PDF Cetak E-mail
Rabu, 09 April 2008 14:30 WIB
Aksi skandal BLBI kembali digelar (8/4/2008) oleh GERAK BLBI, aksi tersebut disertai dengan penyegelan asset milik obligor Anthoni Salim, massa sebanyak 300 orang yang bergerak dari Tugu Proklamasi sejak pukul 10.00 pagi langsung menuju Wisma Indo Cement, milik Anthoni Salim.

Aksi tersebut berjalan lancar, penjagaan oleh polisi pun tidak begitu ketat, sehingga membuat para demonstrans leluasa melakukan aksinya dengan memancangkan papan penyegelan yang bertuliskan “ Gedung ini milik Anthoni Salim, disegel oleh rakyat”
Menurut keterangan koordinator aksi Ghea Hermansyah, penyegelan tersebut dilakukan untuk membuka mata masyarakat bahwa ternyata masih banyak asset-asset milik para obligor pengemplang uang rakyat yang masih betebaran di berbagai tempat di Indonesia.

Sementara, tambah Ghea, sepertinya pemerintah tidak punya keyakinan sehingga kurang bisa bertindak tegas menangani skandal BLBI, padahal jelas-jelas dibalik skandal itu ada indikasi kejahatan terhadap keuangan Negara.

“Dana itu diambil dari masyarakat melalui perbankan lalu macet, kemudian yang tersisa adalah perusahaan dan barang anggunan. Kalau begitu hak masyarakat yang dijarah itu harus dikembalikan kepada masyarakat. Kalau pemerintah tidak bisa mengembalikan dengan cara sekuritisasi ya sudah sekalian aja disegel oleh rakyat” kata Ghea.

Karena sudah begini masalahnya, pasti rakyat yang sangat menderita, sebab dari obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah, rakyat yang harus menanggung sebesar 5 triliun setiap bulan untuk membayar bunga obligasi tersebut.

Akibat dari hal tersebut, hampir semua asset yang untuk kepentingan hajat hidup orang banyak dikuasai oleh asing melalui liberalisasi perdagangan. Itupun tidak cukup untuk membayar hutang dari dana yang dipakai untuk membiayai BLBI. Semua dikuasai oleh asing, jadi bangsa kita benar-benar menjadi kuli di negeri sendiri. Semua ditentukan oleh para pemilik modal. Jadi apa bedanya dengan jaman VOC dulu, semua kekayaan kita dibawa ke luar. Kalau Soekarno dulu menasionalisasi perusahaan asing, sekarang sebaliknya mengasingkan perusahaan nasional, demikian komentar Ghea. (Chel)
 
Baner